Wednesday, December 14, 2011

Anji - Berhenti di Kamu

Tuesday, December 13, 2011

Negeri Soya Dan Adat Cuci Negeri sebuah mozaik budaya Maluku

Teung-Teung ini seharusnya berjumlah 14 (empat belas) buah, dua diantaranya masih perlu diselidiki. Diantara teung-teung yang ada, ada dua tempat yang mempunyai arti tersendiri bagi anggota-angota clan tersebut yakni;

Baileo Samasuru, yaitu tempat mengadakan rapat dan berbicara.
Tonisou, yaitu suatu perkampungan khusus bagi Rumah Tau Rehatta yang di dalamnya disebut sebuah Teung.

Beberapa diantara rumah Tau tersebut tidak lagi menetap di negeri Soya, begitu pula Negeri kecil yang pernah ada telah hilang disebabkan beberapa faktor dan perkembangan yang terjadi didalam masyarakatnya.
Raja Soya yang pertama adalah "latu Selemau" dan isterinya bernama Pera Ina. Dibawah pemerintahan Latu Selemau, Negeri Soya (termasuk 9 negeri kecil yang berada dibawah kekuasaanya), merupakan suatu kesatuan besar, Dalam masa kebesarannya, Latu Selemau dianugerahkan beberapa gelar yang lebih agung yang merupakan bukti kebesarannya ialah : "LATU SELEMAU AGAM RADEN MAS SULTAN LABU INANG MOJOPAHIT" Gelar ini berkenan dengan hubungan dagang, bahkan perkawinan dengan orang-orang dari Kerajaan Majapaahit.

SISTEM PEMERINTAHAN NEGERI
Sistem pemerintahan negeri Soya pada mulanya merupakan sistem Saniri Latupati yang terdiri dari :

Upulatu (Raja);
Para Kapitan;
Kepala-kepala Soa (Jou), Patih dan Orang Kaya;
Kepala Adat (Maueng);
dan Kepala Kewang,



Saniri Latupati dilengkapi dengan "Marinyo" yang biasanya bertindak sehari-hari sebagai yang menjalankan fungsi hubungan masyarakat yang dikenal sekarang dengan nama HUMAS (Hubungan Masyarakat) dan pembantu bagi badan tersebut. Saniri Latupati dapat dianggap sebagai Badan Eksekutif pada saat ini.
Saniri Besar, yaitu persidangan besar yang biasanya diadakan sekali setahun atau bila diperlukan. Persidangan Saniri Besar dihadiri oleh Saniri Latupati dan semua Laki-laki yang telah dewasa dan orang-orang tua yang berada dan berdiam di dalam negeri Soya. Persidangan Saniri Besar merupakan suatu bentuk implementasi sistem demokrasi langsung.
Dalam perkembangannya, kemudian dibentuk pula Saniri Negeri yang terdiri dari Saniri Latupatih ditambah dengan unsur-unsur yang ada dalam negeri. Misalnya : Pemuda, dan organisasi-oraganisasi dari anak negeri yang ada. Persidangan Saniri Negeri dapat di anggap sebagai persidangan legislatif.

Kondisi Geografis Negeri Soya

Negeri Soya adalah sebuah Negeri Adat, terletak di pinggir Kota Ambon, dengan puncak Gunung Sirimau sebagai Icon-nya. Negeri ini berada di ketinggian lebih kurang 464 Meter dari permukaan laut.

Berbatasan; sebelah Timur dengan Negeri Hutumury dan Negeri Passo; sebelah Barat dengan Negeri Halatay; sebelah selatan dengan Negeri Naku dan Ema; dan sebelah Utara dengan Laut Teluk Ambon. Suhu udara pada umumnya berkisar antara 20 derajat - 30 derajat Celcius. Untuk mencapai Negeri Soya dapat digunakan kendaraan jenis apapun dengan kondisi jalan yang berliku-liku namun mulus, dengan jarak kurang lebih 4 Km dari pusat Kota Ambon.
Sejumlah kekayaan peninggalan sejarah seperti Gereja Soya, memberi nilai tersendiri bagi negeri ini. Letak Gereja Tua Soya yang selama ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya, berada di tengah-tengah Negeri Soya, merupakan tempat yang sangat strategis karena berdampingan dengan sekolah dan Balai Pertemuan serta Rumah Raja. Sebagai Negeri yang kaya dengan nilai budaya dan adat istiadat, Negeri Soya merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Maluku. Situs Gereja Tua Soya adalah salah satu tempat yang selama ini paling banyak dikunjungi oleh wisatawan dalam maupun luar negeri, disamping tempat-tempat lain seperti;Tempayang yang selalu berisi air walaupun tidak hujan yang berada di tengah puncak Gunung Sirimau.
Secara Topografis, Negeri Soya berbukit-bukit yang merupakan gejala morpologis. Keadaan demikian menjanjikan kesuburan tanah yang dapat diusahakan dengan tanaman buah-buahan dan tanaman umur panjang lainnya. Dengan Letaknya di ketinggian daerah pegunungan serta curah hujan yang cukup tinggi, maka Negeri Soya memiliki hutan yang subur, dengan ditumbuhi aneka ragam tanaman dan tumbuh-tumbuhan liar. Semua sungai/kali yang bermuara di pantai Teluk Ambon mulai dari Waihaong sampai ke pantai Passo, bersumber di lereng-lereng Gunung Sirimau dari petuanan Negeri Soya.

Budaya dan Agama

Penduduk Negeri Soya adalah masyarakat yang ramah dan religius, dengan gotong royong sebagai ciri khas masyarakat negeri penghasil durian dan salak ini. Nilai-nilai adat dan budaya seperti : Naik Baileo, cuci air, kain gandong, naik ke gunung Sirimau, selalu terpelihara dengan baik dan merupakan sebuah tradisi budaya yang telah menjadi Icon negeri dari turun temurun hingga saat ini.
Sebelum kedatangan bangsa Portugis di Maluku, Negeri Soya merupakan sebuah kerajaan yang berdaulat dengan wilayah kekuasaan meliputi, Teluk Ambon sampai ke Passo, Pesisir Pantai Timur sampai Selatan Jazirah Leitimor, dibawah pemerintahan Raja yang terkenal saat itu yakni “Latu Selemau” dengan Panglima Perangnya “Kapitan Hauluang” . Raja dan Panglima perang ini dibantu kapitan-kapitan kecil sebagai kepala pasukan tombak, panah, dan parang salawaku, dengan kekuatan 300 orang prajurit yang didukung oleh kurang lebih 1000 orang rakyat.
Hubungan dagang kerajaan Soya dengan Hitu, Ternate, dan Tidore bahkan Raja-Raja Goa terjadi pada akhir abad 14 saat Kerajaan Mojopahit telah pudar kekuasaannya dan kerajaan Islam mulai tumbuh. Bersamaan dengan itu, masuklah Armada Portugis yang menjadikan Kerajaan Soya kurang dipengaruhi oleh budaya Hindu maupun Islam.
Masyarakat Negeri Soya ternyata tidak menerima kedatangan bangsa Portugis yang bertujuan untuk melakukan perdagangan rempah-rempah. Rakyat Negeri Soya kemudian mengangkat senjata melawan Portugis. Perlawanan masyarakat tersebut dipimpin oleh tujuh anak Latu Selemau yang menguasai Soa Ahuseng, Soa Amangtelu, Soa Uritetu, Soa Labuhan Honipopu, dan Soa Atas. Perlawanan ini ternyata tidak membuahkan hasil. Kerajaan Soya takluk kepada Portugis. Kekalahan ini berhasil merubah wajah dan status Negeri Soya dari sebuah kerajaan yang berdaulat menjadi bagian dari daerah yang dikuasai oleh Portugis. Rakyatnya kemudian diinjili dan dibaptis oleh Fransiscus Xaverius dan menjadikan orang Soya beragama Kristen Katolik. Orang Soya yang tidak mau menyerah terus bertahan di puncak Gunung Sirimau. Mereka hidup terisolir serta tidak mempunyai hubungan dengan kerajaan lainnya.
Pada tahun 1605 armada VOC dibawah Pimpinan Steven vander Hagen memasuki labuhan Honipopu dan menyerang Benteng Portugis dari arah laut serta mengambil alih Benteng Portugis dan diberi nama VICTORIA. Kemenangan VOC atas Portugis membuka peluang bagi disebarkannya paham agama Kristen Protestan oleh Pendeta-Pendeta VOC. Hasilnya adalah, banyak orang Kristen Katholik beralih menjadi Kristen Protestan.
Kegiatan penginjilan ini dikaitkan dengan kepentingan VOC dalam menegakkan kekuasaan kolonial di Pulau Ambon. Dengan hak-hak istimewa yang mereka miliki dari Kerajaan Belanda, mereka gunakan untuk mengangkat pegawai asal pribumi termasuk juga mendidik dan menthabiskan pendeta baru asal pribumi untuk kepentingan penginjilan diantaranya; Lazarus Hitijahubessy yang diutus ke Negeri Soya untuk menyebarkan Injil pada tahun 1817. Melalui penginjilannya, Negeri Soya menjadi Kristen. Pengkristenan ini, ternyata berpengaruh terhadap adat-istiadat masyarakat Negeri. Secara adaptif nilai-nilai Kristiani dimasukan ke dalam adat maupun upacara adat seperti Rapat Negeri, Kain Gandong, Naik Baileo, Cuci Air, Cuci Negeri, naik ke puncak Gunung Sirimau dan Pesta Bulan Desember sebagai tanda persiapan/ penyambutan Natal Kristus.
Gedung Gereja Tua Soya walaupun bentuknya yang sederhana, namun telah memberikan andil bagi sejarah Pekabaran Injil di Maluku, khususnya di Negeri Soya. Kekristenan di Negeri Soya harus diakui tidak dapat dilepaskan dari hadirnya Joseph Kham yang bertemu dengan orang-orang Kristen di Negeri Soya pada tahun 1821. Jika digambarkan dalam angka, maka perkembangan kekristenan pada saat itu adalah sebagai berikut : Anggota Sidi : 22 orang, Anggota Babtis Dewasa : 21 orang, Anak Sekolah : 10 orang, Anak di luar Sekolah : 7 orang, dan Anak yang dibabtis : 1 orang.
Dari angka tersebut di atas dapat dikatakan bahwa proses pekabaran Injil di Negeri Soya ternyata berjalan lambat. Hal ini disebabkan karena masyarakat Soya yang masih terisolir, dan karenanya tidak mudah menyerahkan diri untuk dibaptis sebagai akibat peperangan dengan Bangsa Portugis. Faktor lain adalah, angka kelahiran yang sangat rendah disamping kehidupan sosial ekonomi.. Namun, harus diakui kedatangan Joseph Kham merupakan angin baru bagi penginjilan di Maluku termasuk Soya, yang menjadikan jumlah pemeluk Agama Kristen dari waktu ke waktu terus bertambah.
Dalam kaitannya dengan penyebaran Agama Kristen di Maluku, Gedung Gereja Soya sebenarnya mempunyai catatan sejarah tersendiri. Pertumbuhan Gedung Gereja Soya pada awalnya tidak diketahui. Untuk menampung kebutuhan kegiatan ibadah, pada tahun 1876 Raja Stephanus Jacob Rehatta memimpin orang Soya untuk memperbaiki serta memperluas bangunan Gereja secara semi permanen yang dipergunakan sampai tahun 1927. Pada masa pemerintahan Leonard Lodiwijk Rehatta, Gedung Gereja Soya yang diperbaharui tahun 1927, pada tahun 1996 kembali dipugar dan atau direstorasi dibawah panduan Bidang Museum Sejarah dan Kepurbakalaan Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Maluku. Hasil ini hanya bertahan hingga 28 April 2002 saat Negeri Soya diserang oleh kaum perusuh yang mengakibatkan korban jiwa meninggal 11 orang, 12 orang luka berat, dan sejumlah lain luka ringan, disamping 22 buah rumah hangus terbakar rata dengan tanah, dan Gedung Gereja Tua Soya yang telah menjadi Bangunan Cagar Budaya. Gereja Tua Soya kemudian berhasil dibangun kembali dan diresmikan oleh Ketua Sinode GPM Dr. Chr. J. Ruhulessin, M.Si dan Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu.

Asal Mula Upacara Adat Cuci Negeri

Menurut sumber yang ada, pada waktu dulu upacara adat cuci negeri berlangsung selama lima hari berturut-turut. Segera setelah musim Barat (bertiupnya angin barat) yang jatuh pada bulan Desember, Upacara cuci negeri dimulai. Mereka percaya bahwa dengan bertiupnya angin barat, akan membawa serta datuk-datuk. Pada malam hari menjelang hari pertama dengan dipimpin oleh “Upu Nee” (initiator), para pemuda berkumpul di Samorele. Mereka mengenakan “cidaku” (Cawat), sedangkan mukanya dicat hitam (guna penyamaran), sebaliknya, semua wanita dilarang keluar rumah.
Para pemuda dengan dipimpin oleh Upu Nee menuju ke Sirimau tempat bersemayam Upulatu yang didampingi oleh seekor Naga. Upu Nee berjalan mendahului rombongan dan memberitahukan Upulatu bahwa, para pemuda akan datang dari clan-clan dimana mereka berasal.
Menjelang tengah malam, para pemuda yang ada didudukan dalam posisi bertolak belakang. Dalam keadaan seperti itu, datanglah Naga menelan mereka, dan menyimpan mereka selama lima hari dalam perutnya. Pada tengah hari pada hari kelima, Naga kemudian memuntahkan mereka. Masing-masing orang dari mereka kemudian menerima tanda, suatu lukisan berbentuk segi tiga pada dahi, dada, dan perut. Sementara itu, para wanita dan orang-orang tua telah membersihkan Samasuru dan Negeri.
Menjelang tengah hari, turunlah Upulatu bersama pemuda-pemuda tadi dari tempat Naga menuju Samasuru. Di sana, keluarganya telah menunggu. Dalam prosesi tersebut, lagu-lagu tua dan suci dinyanyikan (suhat) Raja / Upulatu mengambil tempat pada batu tempat duduknya (PETERANA) dan berbicaralah Raja dari tempat itu (Batu Stori Peterana) sambil menengadahkan mukanya ke Gunung Sirimau.
Sejarah mengenai jasa-jasa, pekerjaan-pekerjaan besar dari para datuk-datuk, sifat kepahlawanan mereka diceritakan kepada semua orang yang sedang berkumpul. Permohonan-permohonan dinaikan kepada Ilahi (dalam bentuk KAPATA) yang antara lain berkisa kepada penyelamatan negeri Soya beserta penduduknya dari bahaya, penyakit menular, dan mohon kelimpahan berkah, Taufik dan Hidayat-Nya kepada semua orang. Selesai ini semua, semua orang pun berdiri dan dua orang wanita (Mata Ina) yang tertua dari keluarga (Rumah Tau), Upulatu melilitkan sebuah pita yang berwarna putih melingkari orang itu (Kain Gandong Sekarang).
Dari cerita tua ini, nampak jelas pengaruh dari Upacara Tanda ala KAKEHANG di Seram Barat. Dapat ditarik kesimpulan bahwa pada waktu dulu upacara adat di Baileo (Samasuru) dilakukan untuk merayakan lulusnya para pemuda yang lulus dari upacara initiati di puncak Gunung Sirimau tersebut. Kemudian setelah masuknya agama Kristen yang dibawa oleh orang Portugis dan Belanda, maka penyelenggaraan upacara ini mengalami perubahan bentuk. Selanjutnya dengan cara evolusi yang terjadi di dalam masyarakat yang meliputi segi pendidikan, kerohanian, sosial, dan lain-lain, sebagaimana penyelenggaraannya dalam bentuk sekarang.


Maksud Dan Tujuan

Maksud dari penyelenggaraan dan perayaan upacara adat tiap tahun di Negeri Soya oleh penduduk serta semua orang yang merasa hubungan kelaurganya dengan Negeri Soya bukan semata-mata didasarkan oleh sifatnya yang tradisionil, tetapi lebih dari itu, dimaksudkan untuk memelihara, dan atau menghidupkan secara terus menerus kepada generasi sekarang maupun yang akan datang, berkenaan dengan, sifat dan nilai-nilainya yang positif.
Tidak dapat disangkal bahwa dari keseluruhan upacara adat ini, terdapat sejumlah hal penting antara lain: Persatuan, musyawarah, gotong royong, kebersihan, dan toleransi. Unsur-unsur tersebut di atas yang menjadikan upacara adat cuci negeri dapat bertahan sampai saat ini. Maksud perayaan penyelenggaraan setiap kali menjelang akhir tahun tersebut dapatlah dijelaskan sebagai berikut :
Bahwa datuk-datuk/para leluhur dahulu memilih waktu pelaksanaan upacara adat tersebut tepat di bulan Desember , saat permulaan musim barat (waktu bertiup angin darat). Menurut kepercayaan mereka pada waktu itu, arwah leluhur biasanya kembali dari tempat-tempat peristirahatannya ke tempat-tempat dimana mereka pernah hidup. Disamping itu, ada kepercayaan bahwa sehabis musim timur/hujan, biasanya keadaan yang diakibatkan selama musim hujan itu sangat banyak, antara lain : tanah longsor, rumah-rumah bocor, pagar dan jembatan rusak, sumur-sumur menjadi kotor dan banyak lagi hal-hal lain yang harus dibersihkan, dibetulkan, diperbaharui.
Untuk membenahi hal-hal yang diakibatkan oleh kejadian alam tersebut, maka para datuk-datuk menyelenggarakan upacara serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan penataan negeri dari berbagai kerusakan yang terjadi.
Dengan masuknya agama Kristen yang dibawa oleh Bangsa Barat, maka beberapa hal yang berbau animisme dan dinamisme ditanggalkan dan disesuaikan dengan ajaran Kristen seperti: meniadakan persiapan-persiapan untuk menyambut arwah-arwah leluhur. Makna kegiatan ini juga kemudian dikaitkan dengan ajaran Kristen dalam kaitannya dengan persiapan-persiapan perayaan Natal. Makna dari cuci negeri ini lebih ditonjolkan dengan maksud untuk mempersiapkan masyarakat dalam menyambut Anak Natal.
Upacara cuci negeri dengan demikian lebih bersifat menyucikan diri dari perasaan perseteruan, kedengkian, curiga-mencurigai (Simbolnya pada : turun mencuci tangan, kaki, dan muka di air Wai Werhalouw dan Unuwei). Dari segi keagamaan, penyelenggaraan ini yang kebetulan berlangsung pada awal bulan Desember mempunyai makna yang luas dalam menyongsong dan menyambut hari Raya Natal, Kunci Tahun dan Tahun Baru. Kesibukan di hari-hari ini sekaligus merupakan hari-hari atau minggu advent untuk persiapan perayaan hari raya berikutnya dengan keadaan yang cukup baik.

Upacara Adat Cuci Negeri

Sejak dahulu Negeri Soya telah terkenal dengan Upacara Adat “Cuci Negeri”. Upacara ini menarik perhatian banyak wisatawan baik dalam maupun luar negeri, serta para ilmuan. Seorang Anthropolog Amerika, Dr. Frank Cooley telah menyelesaikan disertasinya yang berjudul “Altar and Throne in Central Moluccan Societies” untuk mencapai gelar Doktor dengan mempergunakan banyak sekali data-data dari upacara adat tersebut.
Adapun proses jalannya upacara adat “Cuci Negeri” dapat dijelaskan sebagai berikut :

o Rapat Saniri Besar
o Pembersihan Negeri
o Naik ke Gunung Sirimau dan Matawana
o Turun dari Gunung Sirimau dan Penyambutan di Rulimena
o Upacara Naik Baileo Samasuru
o Kunjungan ke Wai Werhalouw dan Uniwei
o Persatuan dalam Kain Gandong
o Kembali Ke Rumah Upulatu (Raja)
o Pesta Negeri
o Cuci Air

Foto Desember 2011








Sumber: http://allaboutmoluccas.blogspot.com/negeri-soya-dan-adat-cuci-negeri-sebuah.html

NAMA MARGA SUKU MALUKU

Daftar di bawah ini memuat beberapa marga Ambon.



A

Abednego, Abel, Abaroea atau Abarua, Abraham, Abrahams, Abrahamsz, Acher, Ademiar, Adeo, Adjahary, Adolf, Adonis, Adrian, Adrianz, Adrians, Adriaansz, Adrianus, Adtjas, Afaratu, Afdan, Afflu, Afitu, Aghogo, Agudjir, Agustinus, Agustis, Agustyen, Ahab, Ahad, Ahar, Ahiyate, Ahlaro, Ahnary, Ahudora, Ahver, Aihery, Ailerbitu, Ailerkora, Ainoli, Aipassa, Airory, Aitonam, Akasian, Akbar, Akel, Akerina, Akiaar, Akiari, Akiary, Akihary, Akipu, Aklafin, Akohillo, Akollo, Akse, Aktalora, Akyuwen (baca:Akiwen), Alain, Alakaman, Alamon, Alaslan, Alatubir, Alberthus, Albram, Alexander, Alfanay, Alfaris, Alfons, Alicaris, Aliputty, Alkatiri, Alkoteri, Allo, Aloon (baca:Alon), Alopy, Aloumoly, Alputila, Alvarisi, Alviaro, Alwen, Alwer, Alwy, Alyeru, Alyona, Amahoru, Amamaran, Aman, Amahorseya, Amanapunyo, Amaral, Amarduan, Ambar, Amergebi, Ameth, Amorhosea, Amos, Ambrosilla, Amunnopunjo, Amuntoda, Anakotta, Anakotapary, Anamova, Anas, Andea, Andies, Andres, Andrias, Andries, Angelbert, Angels, Angganois, Anggoda, Angkotta, Angkotamony (baca:Angkotamoni), Angkotasan, Angky, Angwarmase, Aninjola, Ansora, Anthonio, Anthony, Antormase, Apalem, Apalen, Apanath, Apang, Apitula, Apituley, Aponno, Apopits, Aprian, Aramuda, Araben, Arbol, Arends, Areros, Argueble, Aries, Aristarkus, Arjesam, Armando, Arnes, Arlooy (baca:Arloy), Aronds, Aropa, Aroran, Artafella, Arts, Arun, Asbay, Aschab, Asohorty, Asry, Assel, Astan, Asthenu, Aswaly, Asyeram, Atapary, Atbar, Atiby, Atihuta, Attamimi, Aucheyeny, Augustyn, Aunalal, Auratu, Aurima, Aurmartin, Awear,Awirano,Ayal, Ayawaila, Ayhery, Ayhuan, Ayuba,



B

Bachta, Bacory, Badelwair, Badmas, Baersady, Bager, Bahrid, Bairatnissa, Bairo, Bakarbessy, Bakker, Bakridi, Ballan, Bally, Balryan, Balsala, Balthazar, Balvid, Bamatrao, BƤmfer, Baora, Baragain, Baransano, Barendz, Bareto, Barfeny, Barger, Barkeij, Barlola, Barloy, Barmella, Barons, Barry, Bartolomeus, Barutressy, Basafin, Basalamah, Basry, Basteirn, Bastian, Batceran, Batcori, Batdjedelik, Batfeny, Batfian, Batfin, Batfyor, Batho, Batidas, Batlajery, Batlyel, Batlyeware, Batserin, Batsira, Batsyory, Battisina, Batto, Batuwael, Batwael, Batyefwal, Bauwens, Bazari, Bazergan, Beay, Beffers, Belay, Belder, Belegur, Belen, Beljaky, Beljeur, Belmin, Belnard, Belseran, Belson, Belwain, Benlas, Benamen, Benedijk, Benjamin, Benson, Bento, Benyernakor, Berhitoe atau Berhitu, Bernadus, Bernhard, Bernard, Bernts, Bersaby, Bersalei, Beruat, Besan, Betaubun, Betoky, Bianchi, Biet, Bille, Binbaso, Binnendijk, Binsye, Birahy, Blijlevens, Blukora, Bochi, Boften, Boger, Boina, Boinsera, Boky, Bolisara, Bonara, Bonsalya, Boogart, Borges, Borlak, Bormassa, Borrel, Borolla, Borut, Bosko, Bothmir, Botter, Breekland, Bremeer, Bria, Bruhns, Bruigom, Buano, Buarlely, Builder, Buiswarin, Bukop, Buloglatna, Buloroy, Bunjanan, Burnama, Bwariat, Bwarnirum,



C

Callahan, Calvari, Camerling, Capobianco, Carelsz, Carliano, Carolus, Castera, Castillo, Cecene, Chakenota, Cheiongers, Chello, Chera, Chostantinus, Chrisaldo, Christabel, Christen, Christiaan, Christo, Christoffel, Cie, Cobis, Coendraad, Cohen, Collins, Cols, Comul, Conoras, Consina, Corputty, Corneille, Cornelis, Correia, Courbois, Cramer, Crola, Cuana,



D

da Costa, da Queljoe (atau de Quelju), Dahoklory, Damava, Dandel, Daniel, Daniels, Darany, Dario, Dasfordate, Dasletty, Dasmasela, Dasola, da Silva, da Sousa, Dates, David, Davidz, Dawan, Day, Dayera, Deay, de Barrito, de Bell, de Boer, de Bree, de Brund, de Eng, de Elie, de Feniks, de Flart, Defnada, de Fretes, de Gier, de Graaf, de Haas, de Haart, de Houtman, de Jong (atau de Yong), de Kates, de Keyzer, de Klerek, de Kleric, de Kooc, de Kock, de Kroes, de Leeuw, Delfiga, de Lima, Delly, de Lopez, de Lozari, Demny, den Brave, Denwaklera, Deo, de Powes, Deraukin, Deres, Derhaag, Deriksen, Derikson, Derlauw, Derlen, Derman, de Rooij atau de rooy, de Rozary, de Silo, de Sily, de Sirat, de Soysa, Devenubun, de Vette, Devo, de Vreede, de Wanna, Diasz (atau Dias), Diaas, Diaz, Dikroes, Dilear, Dileer, Diller, Dirk, Dirklalean, Dirksz, Disera, Dagang, Djafry, Djakaria, Djamdjik, Djelagay, Djelau, Djervui, Djermor, Djerol, Djetul, Djibrael, Djilarpoin, Djonler, do Andres, Dobred, Dohasair, Dolhalewan, Domingus, Domlay, Dobbert, Dobertd, Dolaitery, Dolita, Dolkapi, Dolwoy, Dominggos, Dompeipen, Dopiando, Doppert, Doren, Dorseis, dos Santos, Doter, Dousee, Drachman, Drees, Drimol, Drost, Duarmas, Dula, Dumgair, Duparlira, Dwicaprie,



E

Edberth, Edward, Effelewn, Efluar, Efraim, Efruan, Egberth, Eideul, Eirumkuy, Eiwury, El, Elake, Elaury, Eleujaan, Eleuwarin, Elier, Elmas, Elanor, Elath, Eliesen, Elkel, Elle, Ellias, Elfarin, Elminero, Elpis, Elsiba, Elsoin, Eluwart, Elte, Elwarin, Ely, Elyaan, Embisa, Emola, Empra, Emray, Engel, England, Engro, Enrico, Entamoin, Enos, Entero, Enus, Eoch, Erbabley, Eremerd, Erlely, Ernas, Eropley, Ersaprosy, Erwanno, Esomar, Esrev, Esserey, Essy, Etiory, Etrial, Ette, Etwiory, Eugara, Evaay, Evamutan, Evert, Ewaldo, Eyale, Ezauw,



F

Fader, Fadersair, Fador, Faifet, Falaici, Falauf, Falera, Falermury, Falikres, Fallen, Famas, Famney, Fanbrene, Fanlay, Fangohoy, Farjala, Farly, Farsin, Fasse, Fatbinan, Fatfora, Fatlalona, Fatlira, Fatrua, Fatsey, Fauth, Febby, Febesal, Felay, Feldbrugge, Felndity, Feninlambir, Fenjalang, Fenlop, Fenyapwain, Feoh, Fer, Ferlin, Ferdinandus, Fernandes, Fernando, Fernayan, Fesanrey, Fianberi, Fifaona, Fillips, Filmort, Firanty, Firley, Firloy, Fitron, Fiumdity, Flohr, Flontin, Flora, Floris, Flory, Fofid, Fol, Foor, Foraly, Forfan, Forinti, Formes, Forwet, Fower, Frabes, Franciz, Frandescolli, Frans, Franciscus, Franssisco, Fransz, Frare, Freely, Froim, Fuarisin, Fuller, Fursima, Futraun, Futural, Futuray

G

Gabriel, Gaflomi, Gahetto, Gahinsa, Gaite, Gaitian, Gamar, Gamgenora, Ganay, Ganobal, Ganza, Garbim, Gardjalay, Gardjey, Garium, Garlay, Garlora, Garpenassy, Garsiana, Gasko, Gasper, Gaspersz, Gelagoy, Gelfara, Genno, George, Geraldi, Geresi, Geslauw, Ghosaloi, Gigengack, Gill, Gisberthus, Geassa, Geers, Gerrits, Gerson, Giay, Gilbert, Gimon, Ginzel, Giop, Giovani, Givano, Gobay, Godlieb, Goeslaw, Gogerino, Gohir, Goin, Golf, Golle, Golorem, Gomes, Gommies (atau Gommis), Gordan, Gorfan, Gonimasela, Gonsalves, Gonzales, Gosain, Gosem, Gosjen, Goszal, Goteris, Goulaf, Granada, Grasselly, Grisel, Grobbe, Gudam, Gurgurem, Gurium, Gwedjor,



H

Habel, Habibu (atau Habibuw), Hadler, Hahijary, Haikutty, Hair, Hahury, Hakamuly, Hakapaä, Halapiry, Halawane, Halawet, Halirat, Hallatu, Haliwela, Hallauw, Halos, Haluly, Haluna, Haluruk, Hambaly, Hameda, Hammar, Han, Hanavi, Hanegraaf, Hanorsian, Haprekkunarey, Haratilu, Harbel, Haris, Harlen, Harmen, Harmusial, Harnia, Hartala, Hartety, Hartsteen, Hasbers, Haspers, Hassanussy, Hatalaibessy, Hatane, Hataul, Hatharua, Hathelhela, Hatlessy, Hattu (atau Hatu), Hatuina, Hatuleli, Hatuluayo, Hatumessen, Hatuopar, Hatusupy, Hatusupit, Haulussy, Haumahu, Haumalaha, Haumase, Haurissa, Hauwert, Havelaar, Havterheus, Hawaä, Hayat, Hayer, Hayon, Helaha, Hehalatu, Hehakaya, Hehalissa, Hehamahua, Hehamoni, Hehanussa (atau Hehanusa), Hehareuw, Heharu, Heideman, Heikoop, Heipary, Helaha, Heldernisse, Helermuri, Heleryoka, Helewend, Heljanan, Helma, Helnia, Helola, Heluth, Helwed, Helweldery, Hemar, Hemas, Henamony, Henaulu, Hendrick, Hendriks, Hendriksz, Hendrikus, Hendry, Hengkessa, Hengst, Hengtz, Henriques, Herekly, Heremkuy, Herin, Heriola, Herling, Herluly, Herman, Hermanus, Hermarna, Hermeling, Hernauw, Herpiou, Herus, Hetharie, Hetharia, Hetharion, Hetharua, Hetiahubessy (atau Hitahubessy), Heumasse, Heumassy, Heuvelman, Heyer, Hgairtety, Hiariej, Hilaul, Hiteler, Hitalessy, Hitijahubessy (atau Hetiahubessy), Hitipeuw, Hitrihon, Hitiyambessy, Hitto, Hilaul, Hiskia, Hitalesiakwany, Hitirissa, Hiulruur, Hiwy, Hlacronarey, Hoamoal, Hoffmeester, Hogendorp, Hokeyate, Hong, Holatila, Holika, Holle, Holthuisen, Homase, Hommy, Honorsian, Hoor, Horaszon, Hordembun, Horeyaam, Horhoruw, Horts, Horsael, Horsair, Horst, Horu, Hosea, Host, Huath, Hüffner, Huibers, Huik, Huily, Huka, Hukom, Hukunala, Hulkiawar, Hully, Huliselan, Huniake, Hunila, Huninhatu, Hunitetu, Hunsam, Hurasan, Hurlean, Hurry, Hursepuny, Hursina, Hursup, Hurwiora, Husen, Husein, Hutubessy, Hutuely, Huwaa, Huwae,



I

Ibkar, Ihalauw (atau Ihalahu), Ilella, Ilely, Ilery, Imasuly, Imea, Imkorle, Immink, Imoliana, Imsula, Imuly, Inanosa, Intopiana, Ipol, Irapanussa, Iraratu, Irkey, Iriley, Irloy, Irmuply, Isaac, Ishak, Iskiwar, Ismael, Isran, Istia, Italilpessy, Itamar, Itapaty, Itramury, Iwamony, Iwane, Iwar, Iyay, Iyon, Izaach, Izack,



J

Jacob, Jacobs, Jacobus, Jadera, Jaflaun, Jaftoran, Jahya, Jallo, Jamlean, Jalmav, Jamangun, Jambormias, Jamco, Jamrewav, Jamsaref, Jan, Jansay, Jansen, Janser, Janwarin, Jaolath, Jasso, Jeflely, Jekriel, Jellira, Jempormiasse, Jennia, Jerfatin, Jermias, Jeremias, Jesayas, Jethro, Jheo, Jimando, Jirlay, Jochems, Joel, Johan, Johands, Johansz, Johannes, Johannis, Joktimera, Jonain, Jonathan, Jones, Jooce, Joostensz, Joris, Joseph, Jotlely, Jozias, Juarsa, Julian, Julis, Jurben, Jurley, Justinus,



K

Kaary, Kabalessy, Kadmaer, Kadtabal, Kafroly, Kahaela, Kahyoru, Kaibobo, Kaidel, Kaihatu, Kaihena, Kailey, Kaillem, Kailola , Kailolo, Kaimahrela, Kainama, Kaipatty, Kaitjlapatay, Kaitjily, Kajihi, Kakerissa (atau Kakarissa), Kakiailatu, Kakiay, Kakihena, Kakesina, Kalabory, Kallaij, Kalqutny, Kamclane, Kamerkay, Kamsy, Kamuala, Kamukalawae, Kanaitang, Kanawa, Kannety, Kanony, Kapale, Kappuw, Kappy, Kapressy, Karafe, Karanelan, Karatem, Kareis, Karel, Karelaw, Karels, Karesina, Kariuw, Karmezach, Karolis, Karoni, Karspasina, Karsten, Kartensz, Karual, Karuna, Kary, Karyoma, Kasale, Kasamilale, Kasihiw, Kasihuw, Kasmanus, Kassirsz, Kassiuw, Kastanta, Kastanya, Kastella, Kasten, Kastera, Kastero, Kastra, Kasturian, Katayane, Katipana, Kay, Kaya, Kayadoe atau Kayadu, Kayapa, Kdise, Kedalil, Keddah, Kefbarin, Keikuhu, Keilalilota, Kelanit, Kelderak, Keliobas, Keljasa, Keljombar, Kelmaskov, Kelrey, Kelyaum, Kempa, Keppy, Karjapy, Kerthy, Keegel, Kerisoma, Kermite, Kerty, Kesaulya, Ketno, Keumasse, Key, Keyer, Kheral, Khoe, Khomaro, Khouw, Khongred, Khurnalla, Kifta, Kikalessy, Kilanresy, Kilbaren, Killay, Killy, Kilywe, Kilmas, Kipuw, Kirans, Kiriweno, Kiriwenno, Kirlelya, Kirwelak, Kisenrat, Kissia, Kivert, Klauw, Klavert, Klerock, Kloer, Klopfleisch, Knatmera, Kniesmeijer, Knyarilay, Knyarpilta, Kofit, Kohinsafun, Kohumarua, Kohunussa, Koimer, Koisine, Kok, Koknussa, Kolahatu, Kolahuwey, Kolakvera, Kolathena, Kolatveka, Kolelsy, Kolessy, Kolibunso, Kols, Komas, Komnaris, Komrey, Komsary, Konhud, Konoralma, Kooistra, Koraag, Koranelao, Korisen, Koritelu, Korlefura, Korlooy, Kormasella, Kornamne, Kornelis, Korsely, Kortefura, Kortman, Koryesin, Korytelu, Koslout, Kostantin, Kosten, Kotadiny, Kotalawa, Krestian, Kriekhoff, Krisop, Kromes, Kronenberg, Kruytzer, Kudmas, Kudusia, Kufla, Kuhuail, Kuhuparuw, Kuhuwael, Kuhurima, Kulit, Kumbansila, Kundre, Kursam, Kusapy, Kustely, Kuswara, Kuvla, Kuypers, Kwakernaak, Kwalomine, Kwanander, Kwarmona,



L

LaƤle, Labalen, Labery, Labobar, Ladisary, Lafina, Lafuur, Lagraduay, Lahale, Lahallo, Laian, Laicerewy, Laidillona, Laikyer, Lailossa, Lailro, Laimesian, Laimeheriwa, Laimena, Laimera, Laimuslo, Lainata, Lainsamputty, Laisina, Laisouw, Laitera, Laiterkuhy, Laitety, Laitjatamu, Lakavin, Lakawael, Lakburlawar, Lakfo, Lakuteru, Lala'ar, Lalihitu, Lalopua, Lamany, Lamawitaq, Lambartir, Lambertus, Lamderts, Lameky, Lamera, Lamers, Lamere, Lamerkabel, Lampira, Lendisyem, Langer, Langoru, Lanith, Lanjkatyela, Laodendulukh, Lapia, Laplelo, Lappy, Laratmase, Larjela, Larjerau, Larmokas, Larope, Lartutul, Larser, Larsoba, Larwuy, Laryana, Lasaaly, Lasamahu, Lasano, Lasatira, Lasera, Lasiomina, Lassol, Latarissa, Latekay, Lattan, Latuael, Latuamury, Latuasan, Latuary, Latubadina, Latuconsina, Latue, Latuharhary, Latuheru, Latuhihin, Latuhamallo, Latuihamallo, Latukaisupy, Latukolam, Latukolan, Latuny, Latupella, Latul, Latulanit, Laturua, Latumaelissa, Latumaerissa, Latumahina, Latumairissa, Latumalea, Latumanuwey, Latumanuseite, Latumapina, Latumeten, Latupapua, Latupeirissa, Latupella, Latuperissa, Latupraja, Latuputty, Latusia, Lattu, Laturake, Laturette, Laturputih, Latus, Latusinay, Latutubaka, Latuconsina, Latusallo, Latuwael, Latusuay, Lauhvy, Laukon, Launuru, Laurika, Lausepa, Lausiry, Lauterboom, Lavina, Lavuy, Lawalata, Lawalatta, Lay, Layabar, Lealessy, Leasa, Leansamputty, Leanwoar, Learity, Leasa, Leasiwal, Leatemia, Leatomu, Lebelauw, Lefmurmuri, Lefta, Leften, Lefteuw, Lefuga, Lefumonay, Lefuray, Legajir, Leikawa, Leimeheriwa, Leitemia, Leihitu, Leimena, Leipary, Leirissa, Leisisel, Leiwakabesy, Leiwier, Leite, Leivitar, Lekahatu, Lekahena, Lekairua, Lekal, Lekalaet, Lekalisa, Lekan, Lekatompessy, Lekawael, Lekenila, Lekerupy, Lekiohapy, Lekiora, Lekipiouw, Lekransy, Leksair, Leksona, Lelapary, Leleulya, Leleury, Leliweary, Lelyemin, Lelsury, Lellortery, Lemosol, Lenahatu, Lendersz, Lendert, Lenna, Leohena, Leomuda, Leonadal, Leonard, Leonary, Leonlina, Lepertery, Lepith, Lermer, Lerrech, Lerrick, Lesbassa, Lesbatta, Lescona, Lesel, Lesiasel, Lesiela, Lesilolo, Lesimanuaya atau Lesimanuaja, Lesirollo, Lesnussa, Lesomar, Lesputty, Lessidi, Lessil, Lessiputty, Lessituny, Lessy, Lestaluhu, Lesteru, Lestuny, Lestussin, Leisubun, Letelay, Lethulur, Let-Lei, Let-Let, Letlora, Letsoin, Letty, Letwar, Letwory, Leuhena, Leuhery, Leulier, Leundra, Leunufna, Leunura, Leurima, Leuwol, Levi, Lewaherilla, Lewahopa, Lewankiky, Lewansorna, Lewantour, Lewaru, Leweheri, Lewenussa, Lewerissa, Lewery, Lewibaker, Lewier, Lewna, Lico, Lidiperu, Lieando, Lienatha, Liesay, Liklikwatil, Likumahua, Likumahwa, Liliefna, Liligoly, Lilihata, Lilihua, Lilipaly, Lilipory, Limaheluw, Limarloy, Limbers, Limehuwey, Limirubus, Limor, Linansera, Lindray, Linson, Liptey, Lipury, Lirrey, Lisaholeth, Lisapaly, Lisnario, Litaay, Litamahuputi, Litilohy, Litwart, Liufeto, Loby, Lobya, Lodarmase, Lodrigus, Lohy, Loilar, Loimalitna, Loimehiapy, Loirouw, Loisa, Loisoklay, Loiurro, Loka, Lokarleky, Lokollo, Lokra, Lolinwafan, Lomera, Lomesliden, Londer, Loomeyer, Lopes, Loppies, LopuhaƤ, Lopulalan, Lopulissa, Lopumeten, Loran, Lorenzo, Lorwens, Losepta, Loswetar, Lotsepta, Lotusyera, Louhenapessy, Louhanapessy, Louhattu, Louhery, Louis, Loulolia, Loupatty, Loupias, Lourensz, Louth, Loutwaviokar, Louw, Lowaer, Loyra, Luamasse, Lucas, Ludimera, Lufkey, Luhukay, Luhulima, Lukmetiabla, Lukukay, Luis, Lukas, Lumalessil, Lumamuly, Lumanon, Lumatalale, Lumoly, Lumona, Lumuly, Lumyar, Lundberg, Lurika, Lusikooy, Lusnarnera, Lussy , Luther, Luturdas, Luturmas, Luturkey, Luturyaly.



M

MaƤda'el, MaƤil, MaƤhury, MaƤlette, MaƤnary, MaƤsuly, MaƤtita, MaƤtitahputih, MaƤtitawaer, MaƤtoke, MaƤturwey, Machmara, Macora, Macsurella, Madelis, Madethen, Madrach, Madubun, Maelissa, Maerissa, Maghyn, Magista, Magistroy, Mahakena, Mahu, Mahubessy, Mahulete atau Mahulette, Mahupale, Mahwil, Maici, Maifor, Maigoda, Maiheuw, Maihoram, Maik, Mailera, Mailissa, Mailoa, Mailopuw, Mailuhu, Mainake, Mainasse, Mainasy, Maintor, Maipau, Mairera, Mairuhu, Maitha, Maitimu, Maituni, Makahinda, Makalew, Makalaypessy, Makarawe, Makasenda, Makatey, Makatita, Makeralo, Makewe, Makooy, Malagwar, Malaihollo, Malaka, Malakauseya, Malaluhon, Malawat, Malawau(w), Male, Malesi, Malinder, Malioy, Malirafin, Malirmasele, Malkus, Malloly, Mallur, Maloka, Maloky, Malonsilly, Manait, Manakane, Mancino, Mandalise, Mandessy, Mandry, Manduapessy, Mangar, Mangera, Mangidano, Manginsela, Manila, Manilet, Manintamahu, Manipa, Manina, Manlany, Mansilety, Mantauw, Manthol, Mantouw, Mantulameten, Manuel, Manuhuttu, Manufury, Manukelle, Manukiley, Manukily, Manupassa, Manuputti atau Manuputty, Manusama, Manusiwa, Maollo, Mapussa, Marantika, Marantha, Marasabessy, Marcus, Mardia, Mardjan, Marer, Mareray, Maressy, Maretray, Marian, Marguly, Marino, Marlay, Marolan, Marloune, Marlovolin, Maros, Marsela, Marthens, Maryanan, Marlissa, Marmusial, Maromon, Marthen, Marthinus, Marthius, Masado, Maruanaja atau Maruanaya, Marwa, Maryate, Masbait/Masbaitoeboen (baca: Masbaitubun), Masella, Masesua, Masiglat, Maspaitella, Masriat, Masrikat, Massen, Matahelumual, Matahurilla, Matakena, Matakupan, Matalatta, Matalatua, Matanassy, Matapere, Matatula, Matauseya, Metekohy,Materay, Matheis, Matheos, Matheus, Matinahoruw, Matitahmeten, Matimau, Matmey, Matinahoru, Matital, Matitaputty, Matloa, Matly, Matruthe, Matrutty, Mattale, Mattinahotuw, Matuahitimahu, Matualessy atau Matulessy, Matuanakotta, Matulty, Maturbongs, Matuwalatupauw, Matwear, Mauauth, Mauberg, Maudara, Mauhema, Maulanny, Maulias, Mauressy, Maurits, Maussa, Mautheis, Mauweng, Mawara, Mawetars, Mayahy, Mayano, Mayaut, Mayor, Meckel, Mehedila, Mehen, Mehiwarleky, Mehmorlay, Mehmory, Meifarth, Meikdely, Melaira, Meliezer, Melmambessy, Melsadalim, Melsasail, Melwaer, Mendes, Mendoza, Menora, Merdio, Merweer, Mesack, Mesdila, Mesliden, Mesloy, Messa, Metalmely, Metaloby, Metanleru, Metekohij, Metehelemual, Metiary-Lumalessil, Metiora, Metjikit, Metrian, Meturan, Meute, Meyano, Meyer, Mezack, Michael, Mina, Minaelt, Minaely, Mioch, Miog, Mirlauw, Miru, Moeri, Moers, Mofun, Moksen, Molana, Moll, Molle, Monaten, Mondjil, Moneay, Moniharapon, Monipola, Monny, Montefalcon, Mora, Mores, Morgan, Morios, Morsen, Moryaan, Mosez, Mosse, Mouren, Mouw, Mozes, Mual, Muges, Mularen, Mulder, Muller, Munster, Muriolkossu, Murjani, Musaad, Musila, Muskitta, Mustamu, Mustany, Mutlay, Muya, Musly,



N

Nafali, Naflery, Nahaklay, Nahumarusy, Nahumuri atau Nahumury (atau Tuanahumury), Nahusuly, Nahusona, Nahuway, Naihonam, Naim, Nampasnea, Namserna, Namuru, Nanariain, Nandisa, Nanlessy, Nanlohy, Nares, Naressy, Nanulaitta, Nanuru, Nanusella, Naraya, Narayaman, Narmo, Naroly, Narua, Naryemin, Nasela, Naskay, Nasrany, Natan, Natasian, Natjikit, Natlayer, Natten, Natro, Nauwe, Navan, Nettana, Nicolaas, Niker, Nitakessy, Nitalessy, Nelson, Nife, Nikodemus, Nindatu, Ninkeula, Nisaf, Nendissa, Nengkuela, Nengkuelya, Nererain, Nerwel, Neva, Neyte, Ngelyaratan, Ngabalin, Ngamel/Ngamelubun, Nifmaskossu, Nikijuluw (baca:Nikiyulu), Nirahua, Nisdoam, Nivaan, Nokpay, Norimarna, Norwens, Nova, Novira, Noya, Nugracia, Nuhuyanan, Nukuhehe, Nuniary, Nunlehu, Nunumete, Nuraha, Nurlatu, Nurlette, Nurtanio, Nurue, Nusaly, Nussy,



O

Octavians, Oersepuny, Ofan, Ohello, Ohoiledjaan, Ohoimar, Ohoiner, Ohoira, Ohoirenan, Ohoitavun, Ohoiwirin, Ohorella, Ohman, Oilira, Oita, Oktoseya, Oladasi, Olamando, Olczweski, Olinger, Oliver, Olivier, Oliviera, Olkteseja, Onaola, Onardo, Onarely, Onarloy, Ondy, Ongels, Ongkers, Onoly, Oosterhuis, Oppier atau Opir, Oraile, Oraplawal, Oraplean, Orindalim, Orno, Orun, Oryoin, Oshaer, Osleky, Ospara, Otmudy, Otta, Oudshoorn, Oybur,



P

Paaijs atau Paays, Pahar, Paija, Paihra, Pairhy, Pakaila, Pakaless, Pakkel, Pakniany, Palain, Palajo, Palapessy, Palpialy, Palencar, Palias, Palica, Palijama atau Palyama, Palijate, Palisoa, Palpia, Pamounda, Panjaito, Panpalares, Papilaya (atau Papilaja), Parera, Parety, Parewang, Pariama, Pariela, Parihala, Parinama, Parintah, Parinussa, Pariuri atau Pariury, Parjer, Paron, Parura, Pary, Pasalbessy, Pasanea, Paselima atau Passelima, Pasinau, Passa, Passal, Passau, Patawaria, Patehaduan, Pati, Patjanan, Patras, Patrouw, Pattalala, Pattawala, Patti, Pattianakota, Pattiapon, Pattiasina, Pattiata, Pattiiha, Pattihahuan, Pattiheuwean, Pattikairatu, Pattikawa, Pattileamonia, Pattileraonia, Pattileuw, Pattilouw, Pattimahu, Pattimaipauw, Pattimukay, Pattinama, Pattinasarani atau Pattinasarany atau Pattinaserany, Pattinaya, Pattinussa, Pattipawaej, Pattipeilohi atau Pattipeilohy atau Pattipilohy, Pattipeiluhu, Pattirajawane, Pattirousamal, Pattiruhu, Pattisahusiwa, Pattisamalo, Pattisapacoly, Pattiselanno, Pattiserliun, Pattisina, Pattisinay, Pattisia, Pattiwael, Pattiwaelapia atau Pattiwaellapia, Pattimura, Pattiusen, Pattotmen, Patty, Pattynama, Paturia, Paul, Paulain, Paulus, Paulusz, Paunno, Payara, Pay, Payer, Payessy, Pea atau Peea, Peca, Pehine, Peilouw, Peimahul, Peisina, Pelamonia, Pelapelapon, Pelapory, Pelasula, Pelaury, Peletimu, Pellata, Pellaupessy, Pello, Pelman, Pelmelay, Pelu, Pelupessy, Penny, Penu, Pentura, Pentury, Perdijk, Peres, Perez, Perklay, Perley, Perloy, Persulessy, Pertafun, Perulu, Peseletehahan, Pesireron, Pesiwarisa, Pesilette, Pessi atau Pessy, Pesoelima atau Pesulima, Pesurnay, Pesuwarissa, Peta atau Petta, Petrusz, Peuohaq, Peweloy, Phillips, Philippus, Pical, Picanussa, Picarima, Picasouw, Picauly atau Picaulima, Picauria, Piculima, Pieter atau Pieters, Pieterst, Pietersz, Pieris, Pieritsz, Pikason, Pinoa, Piris, Piries, Pirsouw, Pisarahu, Pitna, Pitoty, Pitries, Pocerattu, Pohirey, Pohwain, Poipessy, Pokar, Pokomasse, Pokrena, Polari, Polhaupessy, Pollatu, Polnaya, Polsiary, Polway, Polyn, Pomeo, Pony, Pooroe, Porce, Porfchy, Porkily, Porlary, Porloy, Pormes, Porsche, Porsiana, Porsisa, Porudara, Porulery, Porwaila, Porway, Postema, Postma, Potoruw, Prans, Pronk, Proprey, Prossy, Proym, Pulumahuny, Pupella, Purimahua, Putiheruw, Putirulan, Puttileihalat, Puttineta, Puttiray, Putuhena, Puturuhu, Puyamna, Pynuslan,



Q

Que, Queljoe, Quezon,



R

Rachil, Radamussa, Radiena, Radjabaycolle, Radjawane, Rafael, Rafel, Rafupaira, Ragalomi, Rahabav, Rahabeat, Rahaded, Rahado, Rahael, Rahajan, Rahakbauw, Rahalob, Rahankey, Rahaor, Rahanra, Rahansikwer, Rahanten, Rahawarin, Rahayaän, Rahalus, Rahangier, Rahangmetan, Rahankuren, Rahansamar, Rahentus, Rahanwatty, Rainony, Raja Boean, Rajab, Rajawane, Ralahallo, Ralahalu, Rambers, Ramchic, Ramon, Ramschie, Ranguly, Raprap, Rarsina, Ratissa, Ratsehaka, Ratsina, Ratte, Ratuhalin, Ratukoten, Ratulohain, Raturomon, Ratuteher, Raude, Raviv, Rea, Reane, Reawaruw, Reasoa, Rebiltaban, Recy, Redonov, Reeyk, Reffialy, Refilely, Refilteman, Refualu, Refun, Refwalu, Regel, Rehatalanit, Rehatta, Rehiary, Reihara, Reilely, Reimas, Reinhard, Reinould, Reintjes, Reiper, Reitiwal, Reken, Relew, Relmasira, Remialy, Remkes, Remmona, Rendat, Ren-El, Renfan, Renfarak, Rengil, Rengirit, Renhoar, Renhoran, Renhuard, Reniban, Renleeuw, Renmaur, Renolat, Renoult, Rentor, Rentua, Renuf, Renuw, Renwer, Renwet, Renyaän, Rerebain, Reressy, Rerinne, Rering, Rery, Resbal, Residay, Resie, Resilowy, Resimery, Reslanut, Reslev, Resley, Resmol, Respessy, Ressel, Ressok, Restuny, Rettob, Reunussa, Revalo, Revo, Revualo, Rey, Reyk, Reyth, Rheebok, Ria, Riamlias, Ribock, Richard, Rici, Ridtjab, Rieuwpassa, Rihna, Rihulay, Rijoly, Rikiwelas, Rikumahu, Rirlherta, Rinsampessy, Riri, Riry, Ririasa, Ririhatuela, Ririhena, Ririmasse, Ririmasu, Riripoy, Riry, Rirsouw, Risahondua, Risakotta, Risamassu, Risamena, Risambessy, Risampessy, Risapori, Risreuw, Risteruw, Ritananuku, Ritawaemahu, Ritho, Ritiauw, Rivai, Riyanda, Road, Roberth, Robertho, Röder, Rodja, Rodriguez, Roffe, Roge, Roirelmasira, Rolas, Rolobessy, Romean, Romalaha, Rombaello, Romeon, Rommer, Romera, Rometna, Romhery, Romkeny, Romlioni, Romlus, Romode, Romohoira, Rompies, Romrainy, Romsery, Romumoij, Romtia, Romuty, Roos, Rooy, Ropena, Rorafuy, Rorainy, Rosen, Rosevelt, Rosfader, Rossi, Rostary, Rosumbre, Rotasouw, Roteltap, Rotobessy, Ruban, Ruff, Rügebregt, Rugebreith, Ruhukail, Ruhulessin, Ruhulessy, Ruhupessy, Ruhunlela, Ruhunussa, Ruhupatty, Rukka, Ruimassa, Rumalattu, Rumailal (Rumaillo), Rumalaiselan, Rumalaselan, Rumalatea, Rumalewang, Rumaloine, Rumamina, Rumamory, Rumappar, Rumasoal, Rumatora, rumkeny, Rumthe, Rumfaan, Rumaf, Rumadery, Rumahenga, Rumakety, Rumalaiselan, Rumangun, Rumarihu, Rumaruson, Rumasella, Rumbalifar, Rumbouw, Rumew, Rumfaan, Rumfot, Rumlaän, Rumles, Rumlus, Rumngevur, Rumphius, Rumpis, Rumpuin, Rumsory, Rumthe, Rupisiay, Russel, Ruspanna, Russyn, Rusten, Rutumalesi, Rutunalessy,



S

SaƤmena, Sabandar, Sabonno, Sadsuitubun, Safenussa, Sagena, Sahabudin, Sahanaya, Sahalessy, Sahar, Saharui, Sahertian, Sahetapy, Sahetumby, Sahilatua, Sahlan, Sahuburua, Sahulata, Sahuleka, Sahureka, Sahupalla, Sahusilawane, Said, Saidely, Saija (atau Tuasaija dari Nunusaku. baca: Saiya, Tuasaiya), Saihainenia, Saihitua, Sailapra, Sailele, Saimima, Saimorsa, Sainafat, Saineran, Sainlia, Sainyakit, Saipelessy, Sairas, Sairdama, Sairduly, Sairkora, Sairlela, Sairlona, Sairlouth, Sairpaly, Sairseta, Saiselar, Saitian, Sairtory, Saklil, Sakliressy, Salahalo, Salahay, Salaka, Salakory, Salamahu, Salambessy, Salambona, Salampessy, Salamena, Salamony, Salamor, Salasiwa, Salatalohi, Salawane, Saleky, Salhuteru, Saliha, Salkery, Sallira, Salomon, Salmon, Salosso, Salurilla, Samadara, Samafat, Samal, Samall atau Samallo, Samaleleway, Samanerey, Samar, Samadara, Samasal, Samder, Samen, Samkay, Samloy, Samollo, Sampulawa, Samson, Samual, Samuel, Samusamu, Sanahu, Sanaky, Sanders, Sandert, Sangaji, Santiago, Sapacoly, Sapalewa, Sapasuru, Sapia, Sapulete, Saptenno, Sapsuka, Sapthu, Sapury, Sapya, Saquarella, Sardinson, Sarimolle, Sarioa, Sarkol, Sarloy, Sarmaly, Sarmanella, Sarusway, Sasabone, Sasake, Sasole, Saulissa, Sauruy, Savsavubun, Schaduw, Schenkuysen, Schrifen, Sedubun/Sedoeboen, Seamiloy, Seane, Seay,Seilano/silano atau Selano, Seimahuira, Seimahuwa, Seipalla, Seipattiratu, Seipattiseun, Seir, Seite, Sekarone, Sekewael, Selanno, Selatnaya, Seldjatem, Selgader, Seleky, Selfenay, Selitubun, Sella, Selra, Selsily, Seltubir, Seluhollo, Selvara, Selvuan, Sem'ula, Senor, Septorday, Septory, Serandoma, Serhalawan, Serin, Seriven, Sermaf, Serpara, Serpiela, Serro, Serumena, Serusiay, Sersian, Sesye, Setha, Setty, Seuw, Sewta, Siahanenia, Siahaya, Siaila, Sialana, Siane, Sianressy, Siarukin, Sichers, Siegers, Sienaya, Sieto, Sifata, Sigin, Sigmarlatu, Sihasale, Sikte, Sila, Silahooij (baca: Silahoy), Silara, Silawane, Silawanebessy, Siletty, Silfanay, Silgaden, Silipory, Silkaty, Sillueta, Sillouw, Silooy, Silvera, Simaela, Simao, Simauw, Simatouw, Simon, Simona, Sina, Sinamona, Sinatti, Sinay (atau Tuasinay), Singadji, Singerin, Sinia, Sinmiasa, Sintiory, Sinyendir, Sipahelut, Sipasulta, Sipiel, Sipolo, Sirdjoir, Sirken, Sirlay, Sirsobad, Sitanala, Sitania, Sitaniapessy, Siutta, Siwabessy, Siwalette, Sklaressy, Slarmanat, Slassa, Slubyanik, Snall, Snylau, Snyopwain, So, Soakakone, Soares, Socnosiwy, Sodefa, Soentpiet, Sogalrey, Sohilait, Soin, Soindra, Solarbisain, Solehuwey, Solemeda, Solefucy, Solgarey, Solinav, Solissa, Solmeda, Solukh, Somae, Somes, Somey, Somnaikubun, Songbes, Sonray, Sooch, Sopacua, Sopacuaperu, Sopaheluwakan, Sopamena, Sopaoia, Soparue, Soparve, Sopla, Soplatu, Soplanit, Soplantila, Soplely, Soplera, Soplero, Soprali, Sorfay, Sorfory, Soriale, Soriton, Sorluri, Sormin, Sormudi, Sorsery, Soruday, Soselissa, Sotja, Souhally, Souhoka, Souhuken, Souhuwat, Souissa, Soukotta, Soukully, Soulinay, Soulissa, Soumeru, Soumete, Soumokil, Soumory, Soumulin, Souripet, Soyem, Spies, Srue, Stanly, Stefanus, Suad, Sucelaw, Sula, Suiker, Suitella, Suli, Sulilatu, Sumanik, Sumany, Sumual, Suneth, Sunloy, Supulatu, Supusepa, Surey, Suribory, Suripatty, Surker, Surlia, Sutaner, Sutrahitu, Suttela, Syahailatua, Syaharanie, Syaranamual, Syatauw, Syauta, Syelau, Syeramwain,



T

Tabalessy, Tabavmolu, Tabelssy, Taberima, Taborat, Tackow, Tahallea, Tahalele, Tahamata, Tahanora, Tahapary, Tahiya, Tahitoe atau Tahitu, Tahoes, Tahor, Taihutu, Tail, Takahepis, Takarbessy, Takaria, Talabessy, Talahatu, Talahaturuson, Talakua, Talaksoru, Talanila, Talla, Tallane, Tallaut, Tamaela, Tamalsir, Tamarmans, Tambalangi, Tamher, Tamonob, Tamtelahitu, Tan, Tanahatu, Tanahitumessing, Tanalepy, Tanalisan, Tanamal, Tanee, Tanalea, Tanalessy, Tanate, Tanesya, Tangahu, Tanic, Tanifan, Tanikwele, Taniwel, Tansora, Tantoly, Tanwey, Tapilow, Tarantein, Tarehy, Tarinathe, Tarumaselly, Tarusy, Tasaney, Tasidjawa, Tassane, Tataperuw, Tatipatta, Tatipikalawan, Tatuhey, Tauran, Tauatanasse, Tawaerubun, Tayalla, Tayl, Tebiary, Tefara, Tehuayo, Tehubijuluw (baca:Tehubiyulu) , Tehupeiory, Tehupelasury, Tehusiarana, Tehupuring, Tehusyarana, Tehuwayo, Teis, Teky, Telepary, Teliaur, Telsuera, Temmar, Tenine, ten Cate, ten Have, Telussa, Tengens, Tentua, Tepal, Terinate, Teriraun, Terling, Terlir, Terloit, Termas, Termature, Terry, Terseman, Tertimelay, Tertroman, Teslatu, Tesno, Tetelay, Tetelepta, Teterissa, Tethool, Tetikay, Tetlageni, Tetrapoik, Tety, Tevtuar, Tharob, The, Thebez, Thecher, Thedy, Thelessy, Themin, Thenager, Thenu, Theny, Theodorusz, Theofilla, Theorupu, Theovilus, Thernando, Theruty, Thesman, Thetius, Theuw, Thiemailattu, Thienus, Thiesman, Thinar, Thio, Thiosubu, Thiotansen, Thobias, Thomas, Thorion, Thovian, Thto, Thung, Thyssen, Tjuparia, Tiahahu, Tianotak, Tibalea, Tibalimeten, Tielman, Tifof, Tigele, Tildjuir, Timahery, Timisela, Timotius, Tilukay, Tiotor, Tipalameten, Tipialy, Tipuria, Tirel, Tisera, Titariuw, Titasen, Titawanno, Tiwery, Titahena, Titaheru, Titaley, Titapasanea, Titarsole, Titarsoley, Titasomi, Titawananno, Titiheru, Titus, Tiven, Tiwery, Tjialfa, Tlingkery, Tobelo, Toberwaer, Toffy, Tohatta, Toisuta, Toker, Tomadina, Tomahu, Tomaluweng, Tomasila, Tomasoa, Tomasouw, Tomatala, Tomaula, Tomhissa, Tomia, Tomio, Tomoria, Tomyar, Tonikoe, Tonrate, Tooren, Topurlay, Topurtawy, Toras, Toressy, Torlain, Tormyar, Torry, Tosane, Tosil, Tousalwa, Touwe, Towait, Trando, Tromlakor, Tromlay, Trona, Ttehelu, Tuahattu, Tuatfaru, Tubalawony, Tuahuns, Tuakora, Tualena, Tuanahu, Tuanahumury atau Nahumury, Tuanani, Tuanakotta, Tuankotta, Tuanaya, Tuanger, Tuapattinaya, Tuarissa, Tuasaija dari Nunusaku atau Saija (baca:Saiya), Tuasamu, Tulaseket, Tuasella, Tuasinay atau Sinay, Tuasuun, Tuatanassy, Tubalawony, Tuharea, Tuhehaij, Tuhilatu, Tuhuleruw, Tuhumena, Tuhumuri atau Tuhumury, Tuhuteru, Tuhusula, Tulalesia atau Tulalessy, Tuluheru, Tumansery, Tumury, Tunyluhulima, Tupalessy, Tupamahu, Tupan, Tupanno, Tupanwael, Tupasouw, Tupawael, Tupenalay, Tuquiha, Turben, Turgey, Turmua, Turubasa, Turuy, Turukay, Tusmain, Tuther, Tutkey, Tutuarima, Tutuhatunewa, Tutuiha, Tutupary, Tutupohu, Tutupoly, Tuwanakotta, Tuwatanassy, Tuapetel, Tuasikal, Tumober, Tuparia, Turkey, Tusyek, Tuurfon, Tyssenraad,



U

Ubfan, Ubleeuw, Ubra, Udigary, Udinera, Ukru, Uktolseya, Uktosya, Ulate, Ulorlo, Ulter, Umagaf, Umasugi, Umhersuny, Unarapal, Unatenina, Unemlora, Unenor, Uneputty, Unilefta, Uniplaita, Unitly, Unkelefta, Unmehopa, Unola, Unsia, Untarolla, Unwakoly, Uperessy, Upessy, Ur, Urath, Uray, Urayawa, Urbayani, Urbansini, Urdjel, Urel, Uren, Urilal, Urlyoly, Ursia, Uruilal, Urutmaan, Usemahu, Usman, Usmani atau Usmany, Uspessy, Uspitany, Utanno, Uwella, Uwen, Uvuuratuw, Uze,



V

van Afflen, van Amstel, Vanath, van Belouw, van Bergen, van Bochove, van Bokhove, van Bulow, van Bussel, van Capelle, van Caspel, van Delsen, van de Haare, van der End, van der Kloor, van der Meer, van der Sluis, van der Weden, van der Zee, van Diest, van Dijk, van Driel, van Enst, van Exel, van Gils, van Harling, van Hoogmoed, van Houten, van Irsel, van Joost, van Nieuwenhuizen, Vanon, van Puffelen, van Ringen, van Room, van Saker, van Strijland, van Suiker, van Sukker, van Surker, Vavuu, Veerman, Veenendaal, Verhagen, Versteegh, Vetegh, Victor, Vidlela, Vijsel, Vinola, Visser, Vollebregt, Voly, Voriume, Vorst, Vriese, Vun



W

WaƤel, Waasar, Waas, Waber, Waelaruno, Waifly, Walagwaor, Wally, Wamona, Wangarwy,Wasahua, Wantaar, Warella, Wariunsora, Wacanno, Wael, Waeleruny, Waerisal, Wails, Wailussy, Wairatta, Waisapy, Wakan, Walaia, Walsen, Walten, Wamesse, Wance, Wanne, Warbal atau Warbala, Warbel, Warella, Waricey, Warkey, Warkor, Wasia, Watloly, Watmanlussy, Watmersan, Watrimny, Watsira, Wattiheluw, Wattilete, Wattimanela, Wattimena, Wattimury, Waulath, Wayerjuari, Weber, Wedilen, Wee, Weeflaar, Weheb, Wehfany, Welary, Welafubun, Weler, Weller, Wellem, Wellikin, Wemay, Wemaf, Wenehen, Wenger, Wenno, Wenus, Weridite, Werinussa, Wesplat, Wessy, Wetamsair, Wewra, Wewza, Wifly, Wilfred, Willys, Wilyams, Wlena, Woersok, Wohel, Woherhair, Wohir, Woley, Wolff, Wolontery, Wonatha, Wonhery, Wonley, Wonmaly, Wonsera, Woolf, Woriun, Wotheisen, Wothouzen, Wuisan, Wuarlijma, Wuctres, Wurletta,



Y

Yabar, Yabarmase, Yafur, Yahawadan, Yakob, Yalmav, Yambreswav, Yamla'ay, Yamrat, Yamvav, Yani, Yantel, Yanuby, Yaranmassa, Yarin, Yauply, Yauris, Yebassy, Yehelissa, Yehuda, Yemnifan, Yenussy, Yerigair, Yerwuan, Yesaya, Yesayas, Yeuyanan, Yeviwra, Ynawarin, Yoel, Yohanes, Yohanis, Yokohael, Yoktery, Yolmen, Yonenain, Yongnaim, Yoor, Yoram, Yordan, Yoris, Yoseph, Yosieto, Yousaf, Yubibyanan, Yulianus, Yunus, Yusak, Yusuf,

Z

Zacharias, Zainilessy, Zakeus, Zalkheus, Zamon, Zaverius, Zein, Zoin, Zue, Zuley, Zijlstra,
Sumber: file:///D:/marga%20suku%20maluku.htm

Buton beat vitual piano 5



Jadi Bisa maen Pinao di PC atw laptop tnpa beli keyboard atw piano lagi..:D
Download Here

Modem at&t Siera Telkomsel Flash

Chapter9SDP--POinter

# Chapter 9 : Pointer

Pointer adalah suatu variabel penunjuk yang menunjuk pada suatu alamat memori komputer tertentu. Pointer merupakan variabel level rendah yang dapat digunakan untuk menunjuk nilai integer, character, real, dan bahkan tipe-tipe data lain yang didukung oleh bahasa Pascal. Variabel biasa, sifatnya statis dan sudah pasti, sedangkan pada pointer sifatnya dinamis dan dapat lebih fleksibel.

Variabel pointer yang tidak menunjuk pada nilai apapun berarti memiliki nilai NULL, dan disebut sebagai Null pointer karena nilainya tidak diinisialisasi dan tidak dapat diprediksi. Pointer Null, jika diakses nilai isinya maka akan memunculkan error pada saat eksekusi, karena pointer Null tidak memiliki isi.
Sedangkan pointer yang tidak NULL adalah pointer yang mengacu ke sebuah alamat yang memiliki data di dalam memori.

Pendeklarasian variabel pointer menggunakan tanda ^ sebelum nama typedatanya, sedangkan untuk menampilkan nilai yang ditunjuk oleh suatu variabel pointer, juga digunakan operator ^ setelah nama variable pointernya.

Pendeklarasian variabel biasa dan pointer:

//variabel biasa
var
nilai : integer;
nilai2 : real;
nama : string;

//variabel pointer
var
nilai : ^integer;
nilai2 : ^real;
nama : ^string;

menginisialisasi dan menampilkan nilai yang ditunjuk pointer adalah dengan cara memberikan operator ^ setelah nama variable pointernya.

Contoh:  nilai^







Practice 9-1:




Practice 9-2:






Practice 9-3:




















Practice 9-4:




























Practice 9-5:







Happy Coding…!

PENGUMPULAN DAN PENYAJIAN DATA

Pertemuan 3
PENGUMPULAN DAN PENYAJIAN DATA

I. Populasi dan Sampel

1. Pengertian Dasar
1 Populasi adalah seluruh obyek yang ingin kita ketahui besaran karakteristiknya.
2 Sampel adalah sebagian obyek populasi yang mewakili karakteristik populasinya, dan kemudian diteliti.
3 Hasil penelitian atas sampel kemudian digeneralisasi bagi keseluruhan populasi. Maka sampel harus representatif (bersifat mewakili populasi).

Contoh:
1 Seseorang yang mengadakan suatu kunjungan ke suatu daerah dapat bercerita banyak tentang keadaan daerah itu, berdasarkan apa yang diamatinya selama satu minggu.
2 Seseorang yang akan membeli buah, biasanya mencoba dulu beberapa biji untuk mengetahui manis tidaknya buah itu.
3 Dokter memeriksa pasien dengan menggunakan sampel daerah pasien itu.s
















2. Sifat populasi
Berdasarkan sifatnya, populasi dapat digolongkan menjadi populasi yang homogen dan heterogen.
a. Populasi homogen adalah sumber data yang unsur-unsur atau elemennya memiliki sifat yang mendekati sama sehingga tidak perlu ditetapkan jumlahnya secara kuantitatif.
b. Populasi heterogen adalah sumber data yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang berbeda (bervariasi) sehingga perlu penetapan batas-batasnya secara kuantitatif.

3. Alasan mengapa digunakan sampel
a. Penggunaan metode sampel dapat menghemat biaya, waktu, dan tenga untuk penelitian.
b. Dalam kasus tertentu, kita mungkin menghadapi objek yang mudah rusak atau berbahaya, misalnya bola lampu, kendaraan, komputer, atau ujicoba senapan dan peluruh. Hal ini tidak memungkinkan meneliti seluruh populasi.
c. Untuk populasi yang homogen, seperti kadar garam pada air laut, darah dalam tubuh seseorang, maka kita tidak perlu mengadakan penelitian terhadap seluruh elemen populasi.

II. PROSES SAMPLING

II.A Tahapan Sampling

1 Penentuan populasi yang meliputi elemen, unit sampling, dan dimensi waktu, dan sifat populasi.
2 Identifikasi sifat populasi dan kerangka sampling
3 Tentukan teknik sampling.
4 Tentukan ukuran sampel.

II.B Prosedur Sampling

Prosedur sampling secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu Sampling Probabilitas dan Sampling Non-Probabilitas.

II.B.1 Prosedur Sampling Probabilitas

Dalam teknik ini, masing-masing elemen populasi memiliki kesempatan untuk menjadi elemen sampel. Prosedur ini dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok teknik sampling, yaitu:

1. Teknik Simple Random Sampling
5 Sampel diambil secara acak tanpa memperhatikan strata (jenjang)
6 Elemen populasi berpeluang sama untuk menjadi elemen sampel
7 Cocok untuk populasi yang homogen

2. Teknik Stratified Random Sampling
8 Populasi dibagi ke dalam strata atau jenjang (misal: tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dsb.)
9 Untuk tiap strata, dilakukan pemilihan sampel dengan simple random sampling.
10 Cocok untuk populasi yang berstrata atau berjenjang.

3. Teknik Clustered (Area) Random Sampling
11 Populasi dibagi ke dalam kelompok, area atau cluster (wilayah propinsi, pegawai negeri, swasta, karyawan swasta, TNI/POLRI, petani, dsb.)
12 Untuk tiap cluster, dilakukan pemilihan sampel dengan simple random sampling.
13 Cocok untuk populasi yang memiliki cluster/kelompok/area.

4. Teknik Systematic Sampling
Pada teknik systematic sampling, pengambilan sampel didasarkan pada urutan populasi yang telah diberi nomor urut atau anggota sampel diambil dari populasi pada jarak interval waktu atau ruang tertentu dengan urutan yang seragam.
Sebagai contoh:
• Sampel diambil dari daftar populasi yang bernomor genap atau ganjil saja.
• Pengambilan sampel tanah pada kedalaman 0 m, 5 m, 10 m, 15 m, dst (pada interval 5 meter).

II.B.2 Prosedur Sampling Non-Probabilitas

Pengambilan sampel didasarkan pada kebijaksanaan peneliti sendiri.

1. Teknik Convenience Sampling
14 Sampel diambil berdasarkan kesukaan peneliti
15 Misalnya dengan menghadang pengunjung yang baru keluar belanja.

2. Teknik Accidental Sampling
16 Teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa yang kebetulan bertemu dengan peneliti dapat dijadikan sampel jika dipandang cocok.
17 Teknik ini cocok untuk survei pemasaran, kepuasan pelanggan dan sejenisnya, di mana kita tidak mengetahui dengan jelas jumlah populasinya.

3. Teknik Judgment/Purposive Sampling
18 Didasarkan pada pendapat/pertimbangan pakar.
19 Didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu yang diberikan oleh pakar atau ahli untuk pengambilan sampelnya.
20 Cocok untuk studi kasus, misalnya:
21 Peneliti ingin mengetahui model kurikulum SMA yang cocok. Maka sampel yang dipilih adalah para guru dan ahli-ahli pendidikan dan manajemen pendidikan, warga masyarakat yang berpengalaman.
22 Kasus bumbu masak yang dinyatakan haram. Peneliti ingin mengetahui penyebabnya dengan cara mencari sampel (responden) yang ahli di bidang pembuatan bumbu masak, responden dari kalangan ulama yang dapat memberikan fatwa.

4. Teknik Quota Sampling
21 Penentuan sampel dari populasi yang memiliki ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan, yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu dari peneliti. Contohnya:
22 Peneliti ingin mengetahui informasi tentang penempatan karyawan yang tinggal di Perum Pondok Hijau, dalam kategori jabatan tertentu dan pendapatan tertentu. Pemilihan sampel akan ditentukan pertimbangan oleh peneliti sendiri.

5. Teknik Snowball Sampling
Teknik sampling berangkat dari sejumlah sampel (responden) yang kemudian mereka mengajak para temannya untuk dijadikan sampel dan seterusnya sehingga jumlah sampel semakin besar seperti bola salju yang menggelinding. Contohnya:
2 Akan diteliti siapa dalang pengedar Narkoba di SMP Mekarsari, siapa yang menjadi otak pembunuhan murid di SD Kuasa Mandiri, siapa yang membocorkan rahasia soal ujian negara, dsb.

II.C Penentuan Jumlah Sampel

II.C.1 Untuk jumlah populasi yang diketahui

Untuk jumlah populasi yang telah diketahui dapat digunakan rumus Taro Yamane (Riduwan dan Akdon, 2006) untuk menghitung jumlah sampel yang diperlukan:



Dalam rumus di atas:
n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi
d = level signifikansi yang diinginkan (umumnya 0,05 untuk bidang non-eksak dan 0,01 untuk bidang eksakta).

Metode lainnya untuk penentuan jumlah sampel adalah dengan menggunakan Tabel Krejcie:

N S N S N S
50 44 600 234 5000 357
100 80 700 248 8000 367
200 132 800 260 10000 370
300 169 900 269 50000 381
400 196 1000 278 75000 382
500 217 3000 341 100000 384

II.C.2 Untuk jumlah populasi yang tak diketahui
1 Dianjurkan di atas 30 sampel.
2 Untuk survei bisnis, sampel sekitar 100 dianggap memadai.
3 Atau berkisar 15 sampai 20 kali dari variabel bebas (Joseph F. Hair, 1998).

III. KLASIFIKASI DAN TABULASI DATA

Setelah data dikumpulkan, selanjutnya data perlu diklasifikasi dan ditabulasi agar mudah melihat sifat data yang menonjol. Presentasi data dalam bentuk tabel merupakan suatu kegiatan statistik yang menunjukkan informasi penting dari data tersebut.

A. Pengertian Klasifikasi Data
Langkah awal analisis data adalah klasifikasi data. Klasifikasi data berarti memisah-misahkan sifat-sifat dari data heterogen ke dalam kelompok yang homogen.

PENDUDUK
PRIA WANITA
KAWIN BELUM KAWIN KAWIN BELUM KAWIN
Umur Pendidikan Umur Pendidikan Umur Pendidikan Umur Pendidikan

B. Tujuan Klasifikasi Data
1. Mengelompokkan sifat-sifat yang sama ke dalam kelompok atau kelas yang sama.
2. Memudahkan perbandingan.
3. Mengelompokkan informasi penting dan menghilangkan hal-hal yang tak perlu.
4. Menunjukkan sifat yang menonjol sehingga mudah dilihat sekilas.
5. Memudahkan perlakuan statistik selanjutnya atas data yang telah dikumpulkan, misalnya untuk analisis, interpretasi, atau penyusunan laporan.

C. Dasar-dasar Klasifikasi
1. Klasifikasi berdasarkan sifat (atribut)  warna kulit, hobi (kualitatif)
2. Klasifikasi berdasarkan angka  harga barang, upah karyawan (kuantitatif)

D. Penyusunan Data Secara Berurut (Seriation)
1. Berdasarkan urutan waktu (disebut time series)
Contoh: Pendapatan Nasional (dalam Miliar Rupiah)

Tahun Pendapatan Nas. Tahun Pendapatan Nas.
1960 390,2 1963 410,4
1962 412,3 1964 425,8

2. Pengurutan berdasarkan wilayah

Negara Pertumbuhan Rata-rata
1. Colombia 3.1
2. Costa Rica 2.8
3. Dominica 3.2
4. Egypt 3.6
5. Indonesia 4.2

3. Berdasarkan frekuensi  distribusi frekuensi

D. Distribusi Frekuensi
Suatu tabel yang mengelompokkan banyaknya kejadian/frekuensi (cases) ke dalam kelompok-kelompok.

1. Tabel frekuensi menurut angka  tabel frekuensi yang kelasnya dinyatakan dalam bentuk angka.


Contoh: Distribusi Frekuensi Usia Karyawan UD. Sejahtera
Usia Frekuensi
20-24 3
25-29 8
30-34 17
35-39 13
40-44 7
45-49 2

2. Tabel frekuensi menurut kategori  tabel frekuensi yang kelasnya dinyatakan dalam bentuk kategori.

Contoh: Distribusi Frekuensi Pekerjaan Penduduk Caturtunggal
Pekerjaan Frekuensi
Wiraswasta 3423
Pegawai Negeri 890
Pegawai Swasta 1756
TNI/POLRI 213
Buruh 4521
Lain-lain 459

E. Cara Menyusun Distribusi Frekuensi

1. Menentukan jumlah kelas. Rumus yang umum digunakan adalah Rumus H. A. Sturges:



K = Jumlah kelas
N = Banyak Frekuensi
3,322 = Konstanta

Angka Log10 Angka Log10 Angka Log10
1 0 11 1.0413927 30 1.477121
2 0.30103 12 1.0791812 35 1.544068
3 0.47712 13 1.1139434 40 1.60206
4 0.60206 14 1.146128 45 1.653213
5 0.69897 15 1.1760913 50 1.69897
6 0.77815 16 1.20412 55 1.740363
7 0.8451 17 1.2304489 60 1.778151
8 0.90309 18 1.2552725 65 1.812913
9 0.95424 19 1.2787536 70 1.845098
10 1 20 1.30103 75 1.875061

Cari dengan Excel  rumus: =log10(Cell)

2. Menentukan interval kelas
a. Gunakan interval kelas yang sama
b. Gunakan kelas tertutup  memudahkan penentuan nilai tengah
c. Besarnya kelas interval sebaiknya 5 atau kelipatan 5, misalnya 10, 15.

Rumus Sturges untuk menentukan Interval Kelas:


IK = Interval kelas
Range = Nilai terbesar – Nilai terkecil
K = Banyaknya kelas

Latihan Soal:
Buatlah Tabel Frekuensi dengan menghitung banyaknya kelas dan Interval kelas data berikut ini:
33 35 35 39
41 41 42 45 47 48
50 52 53 54 55 55 57 59
60 60 61 64 65 65 65 66 66 67 68 69
71 73 73 74 74 76 77 77 78
80 81 84 85 85 88 89
91 94 94 98

IV. PENYAJIAN DALAM BENTUK CHART DAN HISTROGRAM

A. Bar Chart
Menghasilkan representasi grafis cacah frekuensi untuk setiap nilai yang berlainan.




A. Pie Chart
Menghasilkan representasi grafis berupa lingkaran.



A. Histogram
Menghasilkan representasi grafis berdasarkan interval.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management